UNAAHA – Udara malam di bekas lokasi STQ Unaaha bukan lagi sekadar angin, melainkan nafas ribuan orang yang turut menyaksikan sebuah transformasi. Expo Inovasi Desa Kabupaten Konawe bukan lagi sekadar pameran—ia adalah sebuah pernyataan politik kebudayaan. Di balik gemerlap lampu panggung dan riuh rendah pengunjung, tersembunyi sebuah narasi besar tentang bagaimana 291 desa dari 28 kecamatan sedang menulis ulang takdirnya, dengan Bupati Yusran Akbar, sebagai sutradara sekaligus aktor utama dalam drama pembangunan yang visioner ini.
Panggung utama menjadi ruang sakral dimana identitas Konawe dipertaruhkan. Di sana, Tarian Mombatani dari Abuki tidak hanya ditampilkan, melainkan dihidupkan. Setiap gerakan penari adalah sebuah kalimat dalam narasi agung tentang siklus hidup agraris.

“Ini lebih dari sekadar tarian,” tegas seorang sesepuh desa di pinggir panggung, “Ini adalah memoar leluhur kami yang dikodekan dalam gerak, sebuah ensiklopedia hidup yang kini dibuka untuk dunia.”
Bersamanya, Tari Sumaku dari Meluhu hadir sebagai sebuah deklarasi ketahanan pangan. Proses pengolahan sagu yang biasanya tersembunyi di balik dapur dan kebun, diangkat ke panggung dengan segala filosofinya yang dalam. Seorang koreografer lokal yang enggan disebutkan namanya berbisik lirih, “Kami sengaja menonjolkan setiap tahap, dari menebang pohon hingga menjadi pangan. Ini adalah pesan: kami mandiri, kami berdaulat, dan kami bangga dengan warisan kami.”

Sementara ribuan pasang mata terpaku pada panggung, sebuah peristiwa yang lebih penting tengah berlangsung di balik layar. Bupati Yusran tidak datang sebagai tamu kehormatan yang duduk di barisan depan. Ia datang sebagai “auditor budaya dan pembangunan”, menyusuri setiap stan dengan langkah pasti.
Di Stan Desa Puumbinisi, terjadi sebuah dialog. Bupati Yusran tidak hanya berjabat tangan dan tersenyum. Ia duduk, mendengar, dan kemudian melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang menyentuh.

“Saya tidak ingin hanya melihat produk yang bagus, saya ingin memastikan bahwa di balik produk itu ada sistem tata kelola yang kuat, ada BUMDES yang sehat, ada koperasi yang berdenyut dan yang terpenting, ada pemerintahan desa yang bersih dan melayani,” katanya.
Perjalanan berlanjut ke Stan Desa Lalodangge, dimana sebuah revolusi kreatif sedang terjadi tanpa banyak gembar-gembor. Di sini, Bupati Yusran berhenti lebih lama dari yang dijadwalkan. Ia memegang langsung anyaman souvenir, memerhatikan detail, bertanya tentang bahan baku, pasar, dan yang mengejutkan—tentang hak kekayaan intelektual.

“Souvenir ini cantik, tapi lebih cantik lagi jika sudah memiliki sertifikat HKI dan bisa menembus pasar ekspor. Pemerintah daerah siap memfasilitasi,” tukasnya.
Sorot mata para perajin—sebagian besar ibu-ibu—berbinar. Seorang ibu paruh baya bernama Ibu Santi berbagi.
“Selama ini kami hanya membuat. Hari ini, Bupati membuka pikiran kami bahwa karya kami layak untuk dunia,” ungkapnya.
Apa yang terjadi di Expo Inovasi Desa Konawe malam itu adalah sebuah koreografi politik yang cerdas. Bupati Yusran tidak memisahkan antara seni budaya dengan urusan tata kelola pemerintahan. Keduanya disatukan dalam sebuah narasi yang koheren: budaya yang hidup membutuhkan ekonomi yang sehat, dan ekonomi yang sehat membutuhkan tata kelola yang baik.
Seorang pengamat kebudayaan lokal yang dimintai pendapatnya mengakayan bahwa inilah yang disebut sebagai ‘Pembangunan Manusia Konawe’ yang seutuhnya. Bupati Yusran memahami bahwa membangun desa bukan hanya tentang infrastruktur, tapi tentang membangkitkan jiwa, mengasah keterampilan, dan sekaligus memperkuat institusi.
Malam itu berakhir, tapi sebuah era baru untuk Konawe baru saja dimulai. Expo Inovasi Desa telah berhasil menjadi laboratorium pembangunan desa yang hidup, dimana ide-ide diuji, inovasi dihargai, dan kepemimpinan yang visioner hadir langsung ke tengah rakyat.
Lebih lanjut Bupati Yusran, mengatakan bahwa malam ini kita telah membuktikan bahwa desa bukanlah masa lalu. Desa adalah masa depan. Dan dengan tata kelola yang baik, jiwa wirausaha yang kuat, dan akar budaya yang dalam, tidak ada yang mustahil bagi desa-desa Konawe.
Gemerlap Expo Inovasi Desa Konawe bukanlah cahaya artifisial. Ia adalah cahaya yang datang dari dalam—dari api semangat warga desa yang telah ditemukan kembali, dipupuk oleh kepemimpinan yang memahami bahwa pembangunan sejati dimulai dari mengobarkan jiwa, bukan sekadar membangun fisik.






Comment